Foto : www.bengkalisone.com
Masih adakah seorang Jenderal sekaligus seorang pejabat tinggi negara yang sejujur dan sesederhana ini di zaman sekarang ?
Entahlah, tapi yang pasti almarhum Gusdur pernah berujar, “cuma ada 3 polisi yang jujur di negara ini, yaitu polisi tidur, patung polisi dan Hoegeng”.
Jenderal Polisi Hoegeng, ia pernah mencatatkan namanya dalam sejarah Indonesia sebagai Kepala Kepolisian RI (Kapolri) paling miskin yang pernah ada di negara ini.
Dalam kedudukkannya sebagai orang nomor urut satu di kepolisian negara, namanya tercatat bersih tanpa noda hitam.
Masih adakah seorang Jenderal sekaligus seorang pejabat tinggi negara yang sejujur dan sesederhana ini di zaman sekarang ?
Entahlah, tapi yang pasti almarhum Gusdur pernah berujar, “cuma ada 3 polisi yang jujur di negara ini, yaitu polisi tidur, patung polisi dan Hoegeng”.
Jenderal Polisi Hoegeng, ia pernah mencatatkan namanya dalam sejarah Indonesia sebagai Kepala Kepolisian RI (Kapolri) paling miskin yang pernah ada di negara ini.
Dalam kedudukkannya sebagai orang nomor urut satu di kepolisian negara, namanya tercatat bersih tanpa noda hitam.
Tak mempan dengan suap dan tak luluh dengan tekanan dari pihak-pihak berkuasa untuk mempermudah atau bahkan melepaskan “orang-orang besar” yang terjerat dengan kasus-kasus sedang ditanganinya. Namun sikap jujur dan lurusnya itu malah dianggap sebagai “dosa”. Oleh karena dianggap terlalu lurus dan jujur, ia harus merelakan jabatannya sebagai Kapolri dicopot dari pundaknya pada 1971. Meski dikemudian hari dirinya ditawari jabatan politis sebagai duta besar di luar negeri, namun tawaran itu ditolaknya. Saat ia menemui ibunya untuk menceritakan sebab pencopotan jabatannya, ia disabarkan dan dinasehati oleh sang ibunya, “Selesaikan saja tugasmu dengan tetap bersikap jujur. Tak perlu ada yang dikhawatirkan. Kita kan masih bisa makan nasi dengan garam”.
Foto : www.merdeka.com
Nasehat sang ibu diingat dan tetap dipegangnya dengan teguh hingga mencapai masa pensiunnya. Terbukti, dimasa tuanya, sang Kapolri tecatat tidak mampu memiliki rumah sendiri.
Simpati dari banyak pihak dan para juniornya di kepolisian, yang kemudian patungan untuk menghadiahkan sebuah rumah hunian, sebagai penghargaan atas jasa dan pengabdiannya.
Sumber Referensi :
www.merdeka.com/peristiwa/ibunda-rela-makan-nasi-dan-garam-asalkan-jenderal-hoegeng-jujur.html
baca sumbernya
Foto : www.merdeka.com
Nasehat sang ibu diingat dan tetap dipegangnya dengan teguh hingga mencapai masa pensiunnya. Terbukti, dimasa tuanya, sang Kapolri tecatat tidak mampu memiliki rumah sendiri.
Simpati dari banyak pihak dan para juniornya di kepolisian, yang kemudian patungan untuk menghadiahkan sebuah rumah hunian, sebagai penghargaan atas jasa dan pengabdiannya.
Sumber Referensi :
www.merdeka.com/peristiwa/ibunda-rela-makan-nasi-dan-garam-asalkan-jenderal-hoegeng-jujur.html
baca sumbernya